Mengulik Makna Ritual Bepelas dalam Tradisi Kutai: Warisan Leluhur yang Masih Hidup di Tenggarong
Ritual Bepelas merupakan tradisi leluhur masyarakat Kutai yang masih hidup di Tenggarong. Artikel ini mengulik makna, prosesi, dan relevansinya dalam masyarakat modern tahun 2025–2026.

Hal Penting
- Ritual Bepelas adalah tradisi purba masyarakat Kutai yang bertujuan untuk membersihkan diri dari energi negatif.
- Prosesi ritual melibatkan pengolesan abu ke tubuh sebagai simbol penyucian.
- Ritual ini masih digelar secara rutin di Desa Pela, Tenggarong, hingga tahun 2026.
- Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara terus mendukung pelestarian budaya ini melalui program edukasi dan festival lokal.
- Ritual Bepelas menjadi daya tarik wisata budaya yang semakin populer di kalangan wisatawan domestik.
Asal Usul dan Makna Ritual Bepelas
Ritual Bepelas berasal dari kepercayaan masyarakat Kutai kuno yang percaya bahwa abu memiliki kekuatan penyucian. Tradisi ini dilakukan untuk membersihkan diri dari energi negatif dan malapetaka. Dalam filosofi masyarakat Kutai, abu dianggap sebagai simbol keabadian dan keterhubungan dengan leluhur. Prosesi ritual ini biasanya dilakukan pada malam hari, di mana peserta mengoleskan abu ke seluruh tubuh sambil mengucapkan mantra-mantra tradisional.
Prosesi Ritual Bepelas di Tenggarong
Di Desa Pela, Tenggarong, ritual Bepelas masih digelar setiap tahun dengan prosesi yang terjaga keasliannya. Masyarakat setempat berkumpul di balai adat, membawa peralatan seperti abu, daun-daun tertentu, dan air suci. Ritual dimulai dengan pembacaan doa oleh pemangku adat, diikuti oleh pengolesan abu ke tubuh peserta. Pada tahun 2025, ritual ini semakin terbuka untuk umum, menarik minat wisatawan yang ingin menyaksikan langsung kebudayaan Kutai.
Relevansi Ritual Bepelas di Era Modern
Meskipun zaman telah berubah, ritual Bepelas tetap relevan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan pelestarian budaya lokal. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah menyelenggarakan festival budaya tahunan pada 2026 yang memamerkan ritual ini sebagai bagian dari program edukasi. Selain itu, ritual Bepelas juga menjadi daya tarik wisata budaya, mendukung perekonomian masyarakat lokal melalui kunjungan wisatawan.
Tanya Jawab Singkat
Apakah ritual Bepelas terbuka untuk umum?
Ya, sejak tahun 2025, ritual Bepelas di Desa Pela, Tenggarong, telah dibuka untuk umum dan dapat disaksikan oleh wisatawan.
Kapan ritual Bepelas biasanya digelar?
Ritual Bepelas biasanya digelar pada malam hari, tepatnya menjelang musim tanam, sebagai bentuk persiapan spiritual masyarakat.
Apakah ada biaya untuk menyaksikan ritual ini?
Tidak ada biaya khusus untuk menyaksikan ritual Bepelas, tetapi donasi untuk masyarakat lokal sangat diapresiasi.
Bagaimana cara terbaik untuk menghormati prosesi ritual ini?
Wisatawan diharapkan mematuhi tata tertib adat, seperti berpakaian sopan, tidak mengganggu prosesi, dan meminta izin sebelum mengambil foto atau video.