TTenggarong Pesona
Festival Erau & Tradisi Adat Kutai

Festival Erau Tenggarong: Ritual Adat Kutai yang Bertahan Lintas Generasi

Erau di Tenggarong menghidupkan ritual Kesultanan Kutai Kartanegara, dari Belimbur sampai Mengulur Naga di Sungai Mahakam tiap tahun.

Festival Erau Tenggarong: Ritual Adat Kutai yang Bertahan Lintas Generasi

Hal Penting

  • Erau adalah upacara adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang dipusatkan di Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
  • Rangkaian ritual mencakup Beluluh, Mengulur Naga, dan Belimbur (saling siram air) sebagai simbol pembersihan.
  • Kegiatan berpusat di sekitar bekas keraton yang kini menjadi Museum Mulawarman dan sepanjang tepian Sungai Mahakam.
  • Erau kerap digabung dengan Erau International Folk and Art Festival (EIFAF) yang menghadirkan kelompok seni dari berbagai negara.
  • Festival melibatkan warga lintas usia, dari kerabat kesultanan sampai masyarakat umum yang turun ke jalan saat Belimbur.

Air, Naga, dan Kota yang Basah Seharian

Menjelang siang, jalan-jalan di Tenggarong berubah licin oleh air. Anak-anak menenteng ember, pengendara motor pasrah diguyur, dan tawa bercampur teriakan memenuhi tepian Sungai Mahakam. Inilah Belimbur, puncak yang paling ditunggu dari Festival Erau: ritual saling siram air yang dimaknai sebagai pembersihan diri dari hal buruk. Bagi warga, ini bukan sekadar perang air. Air diambil setelah melalui prosesi adat, lalu disebar ke masyarakat sebagai berkah.

Erau bukan festival dadakan. Ia berakar pada tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, kesultanan tua yang pusatnya berada di Tenggarong. Setiap gelaran, kota yang jadi ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara ini seperti mundur sejenak ke masa ketika keraton mengatur ritme kehidupan warganya. Rangkaian acara berlangsung beberapa hari, memadukan prosesi sakral di dalam keraton dengan keramaian rakyat di ruang terbuka.

Dari Beluluh sampai Mengulur Naga

Inti Erau ada pada ritual adatnya. Rangkaian biasanya dibuka dengan Beluluh, prosesi pembersihan yang dijalani sultan dan kerabat kesultanan sebelum memasuki tahap-tahap berikutnya. Suasananya khusyuk, diiringi tabuhan dan doa, jauh dari hiruk pikuk Belimbur yang menyusul kemudian.

Yang paling ikonik adalah Mengulur Naga. Replika naga yang dibuat khusus diarak lalu dilepas ke Sungai Mahakam. Naga dalam kepercayaan Kutai bukan lambang jahat, melainkan penjaga. Prosesi ini menegaskan betapa Mahakam bukan sekadar sungai bagi orang Kutai, tetapi urat nadi yang menghubungkan hulu, hilir, dan seluruh sejarah kerajaan.

Ritual-ritual ini digelar di sekitar bekas istana yang kini berdiri sebagai Museum Mulawarman. Bangunan itu sendiri menjadi saksi: koleksi benda kesultanan tersimpan di dalamnya, dan halamannya kembali hidup setiap Erau tiba. Bagi generasi muda Tenggarong, museum bukan tempat mati, melainkan panggung yang setahun sekali mengingatkan dari mana mereka berasal.

Warisan yang Diwariskan, Bukan Dipajang

Kekuatan Erau terletak pada keterlibatan lintas generasi. Orang tua mengajari anak cara menghormati prosesi. Remaja yang tahun lalu hanya menonton, tahun ini ikut menari atau membantu menyiapkan perlengkapan adat. Pedagang kaki lima memenuhi kawasan festival, menjual makanan dan minuman dengan harga yang relatif terjangkau, sementara penginapan di Tenggarong biasanya penuh saat puncak acara.

Dalam beberapa tahun terakhir, Erau kerap dipadukan dengan Erau International Folk and Art Festival (EIFAF). Kelompok kesenian dari berbagai negara diundang, sehingga tarian tradisional Kutai tampil berdampingan dengan pertunjukan asing. Bagi pemerintah daerah, ini cara menjaga tradisi sekaligus menarik pengunjung dari luar Kalimantan Timur.

Jadwal pastinya sebaiknya dicek melalui kanal resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menjelang keberangkatan, karena tanggal bisa bergeser tiap tahun. Tenggarong dapat dicapai lewat jalan darat dari Samarinda dalam waktu yang tidak terlalu lama, membuat Erau relatif mudah didatangi wisatawan yang sudah berada di Kalimantan Timur.

Yang membuat Erau bertahan bukan megahnya panggung, melainkan kesadaran warga bahwa ritual ini milik mereka. Selama Mahakam masih mengalir dan warga masih rela basah kuyup demi Belimbur, Erau akan terus diwariskan, bukan sekadar dipajang di etalase sejarah.

Video Terkait

Tanya Jawab Singkat

Apa itu Festival Erau?

Erau adalah upacara adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang digelar di Tenggarong, mencakup ritual sakral seperti Beluluh, Mengulur Naga, dan Belimbur.

Di mana Erau diselenggarakan?

Kegiatan berpusat di Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, terutama di sekitar Museum Mulawarman (bekas keraton) dan sepanjang tepian Sungai Mahakam.

Apa ritual paling terkenal dalam Erau?

Belimbur, prosesi saling siram air sebagai simbol pembersihan, dan Mengulur Naga, pelepasan replika naga ke Sungai Mahakam.

Kapan Erau digelar dan bagaimana cara datang?

Erau digelar tahunan dengan tanggal yang bisa berubah, jadi cek kanal resmi Pemkab Kutai Kartanegara. Tenggarong dapat dicapai lewat jalan darat dari Samarinda.